Chapter 2 Tinggal Seatap dengan Guru Perempuanku
Pada moment ini akawebkun akan mempersembahkan Chapter 2 Tinggal Seatap dengan Guru Perempuanku
saran artikel : mau membaca chapter sebelumnya. silahkan di klik
---
Keesokan paginya aku jogging, namun Vina tidak bisa ikut soalnya dia udah ada janji dengan teman smpnya. Setelah jogging pagi hari, kuputuskan untuk merapikan barangku yang belum selesai kemarin malam. Tanpa kusadari hari sudah sore. Aku putuskan untuk jogging lagi, daripada aku hanya berdiam diri di rumah. Dan masih sama seperti tadi pagi, aku jogging sendirian karena Vina masih belum pulang.Jujur pemandangan disini benar-benar indah meski aku sudah melihatnya berulang-ulang. Mungkin hanya 1 jam aku jogging dan kuputuskan untuk selesai, dan beristirahat di lapangan kompleks perumahan ini. Aku duduk di kursi pinggir lapangan untuk melepas lelah sembari melihat orang-orang yang sedang berolahlaga juga. Mayoritas yang kulihat adalah anak SD yang bermain bola. Lebih tepatnya mereka latihan men-junggling bola, namun dari tadi selalu gagal. Dan itulah yang membuatku dari tadi senyum-senyum dan tertawa sendiri. mengingat betapa sulitnya aku dulu untuk menguasai junggling bola saat masih SD.
–Deeb....bola mereka keluar lapangan, dan menyentuh kakiku. Salah satu dari mereka mendekatiku untuk mengambil bola. Aku langsung mengangkat bola itu dengan kakiku dan melakukan jungling dari kiri kanan depan belakang dan berturut-turut seperti itu, sampai aku yang malah kesenangan sendiri. lalu, aku mengangkat bola itu tinggi-tinggi dan menangkapnya dengan tanganku. "Tips nya pakai bagian tengah kaki," ucapku sambil tersenyum dan menyerahkan bola itu. Anak SD itu hanya terdiam terpukau melihat aksiku, sampai ucapanku hanya dia hiraukan.
Tiba-tiba anak sd lainnya lansung mendatangiku, dan saling bersahut-sahutan untuk memintaku mengajari mereka. "Kak-kak-kak ajari kami cara jungling."
Kenapa tidak...Daripada aku dapat dosa terus karena tertawa melihat mereka melakukan jungling dengan sangat konyol. "Oke, Mumpung aku juga tidak ada kerjaan nih," jawabku sambil senyum. Kami semua langsung ke lapangan. Aku mulai mengajari mereka teknik paling dasarnya dulu, meski ada beberapa dari mereka ada yang sudah tahu. Lalu kulanjutkan ke tahap berikutnya secara perlahan-lahan, sambil mereka bergantian mempraktekkannya.
Kami latihan sambil ngobrol dan bercanda bareng. Dan Saking asiknya aku mengajari mereka, tidak terasa matahari sudah hampir tenggelam di batas horizon dan sang Langit sudah tidak menujukkan warna biruhnya lagi. Aku memutuskan untuk menghentikan latihan jungling ini, karena aku tahu mereka pasti bakal di cari oleh orang tua mereka kalau tidak segera pulang. "Ya udah segini aja ya, soalnya matahari udah mau terbenam. Dan kalian pasti bakalan dimarahi kalau gak segera pulang, kan,"ucapku.
“lho iya udah mau malem nih”...“cepet bener matahari tenggelam”..."lho, kok Cepet ya?!! gak kerasa udah jam segini"..."Nah ya itu, kupikir masih sore lho. Tapi ternyata udah hampir gelap"..."habis ini ibuku bakal nyariin aku, nih"..."wah, mati aku! bisa kena marah, nih, kalau gak segera pulang.” kata-kata itu saling bersahut-sahutan satu sama lain, sampai aku sulit mau mendengar yang mana. Tapi dari semua kata-kata itu, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka bakal dimarahi kalau tidak segera pulang.
"Kak, kapan nih bisa ngajarin lagi. Kalau diajarin kakak, kami jadi cepet bisa,"ucap adit, anak yang tadi mengambil bola. Aku tahu namanya setelah ngobrol dan bercanda bersama mereka semua.
"Waduh maaf gak bisa janji. Tapi kalau aku senggang dan lagi jogging di deket-deket sini, pasti bakalan ku sempatkan mampir ke lapangan, kok,"jawabku sambil tersenyum. Soalnya aku gak tau bakal seperti apa jadwalku kedepan setelah aku masuk SMA. Karena kemungkinan aku bakal disibukkan oleh jadwal ekskul yang nanti akan ku ikuti.
"Oke, kak. kami tunggu,"jawabny dengan semangat.
Aku pun pergi meninggalkan lapangan, dengan diiringi ucapan terimakasih dari anak-anak itu. "Makasih kaaak,"teriak mereka padaku.
"Lama amat pak pelatih,"ledek seorang perempuan yang duduk di kursi lapangan sambil memakai headset dan mengenakan pakaian jogging. Dia mengatakannya sambil tersenyum dan tertawa. Senyumnya benar-benar manis.
Aku masih tidak begitu kenal dengan orang-orang disini. dan tiba-tiba saja ada orang yang mengatakan hal seperti itu, tentu saja itu akan membuaku cukup terkejut. aku memperhatikan sosok perempuan itu lagi, dan ternyata itu adalah vina. "Lho vin, kok ada disini?"tanyaku terkjeut. karena tadi sore dia masih belum pulang kerumah.
"Ya iyalah, gw kan tinggal di perumahan sini,"jawabnya dengan sangat datar.
"Maksud gw, tadi sore lu kan gak ada dirumah,"jelasku sekali.
"Iya gw baru datang kok. Terus kok bosen, ya gw putusin buat jogging aja,"ucapnya dengan santai. "Dan ternyata malah ketemu lu di lapangan lagi jadi pelatih," ledeknya sabil tertawa dan tersenyum.
"Nj^^rr, seneng banget ngatain gw "pelatih","balasku dengan radak jengkel.
"Memang,"jawabnya singkat sambil tertawa. "Duduk dulu aja," tangannya memukul-mukul tempat kosong disampingnya," nih minum dulu, pasti haus,"sambil menjulurkanku botol minuman yang masih tersisa 3/4.
Gak perlu dipertanyakan lagi, Itu sudah pasti botol minumnya. Jika benar, Tentu saja aku sungkan untuk meminum dari tempat yang sama dengannya. Karena secara tidak langsung akan terjadi "indirect ki-".... Nj^^rr apa yang gw pikirin sih!! Lagipula gw bawa minum sendiri, jadi tidak perlu minta darinya. "Makasih vin. Tapi gw bawa minum kok,"balasku dengan tersenyum. Aku lalu duduk dan minum untuk melepas lelahku setelah mengajari anak-anak tadi jungling. Setelah beristirahat sekitar 15 menit, kamipun pulang.
***
Chapter 2 Tinggal Seatap dengan Guru Perempuanku adalah salah satu dari rentetan chapter web novel ini.
***
Hari ini aku tidak berani datang telat, tahu sendirilah kegiatan MOS itu mayoritas ngapain aja. Apa lagi, kalau bukan mencari "kesalahan adek kelas" yang kebanyakan terkesan selalu dipaksakan. Makanya aku tidak berani melakukan kesalahan saat MOS ini, karena sedikit saja melakukan kesalahan, pasti bakalan jadi barang pembu&ian kakak kelas. Setelah aku memasuki kelas, aku putuskan untuk duduk di deretan paling belakang. Alasannya sederhana, karena aku tidak ingin menjadi pusat perhatian. karena siapapun yang jadi pusat perhatian, bakalan cenderung jadi barang pembu&ian kakak kelas. Namun saat ini hanya tersisa 1 kursi di deretan paling belakang, sedangkan deretan di depannya sudah full. Jadi aku terpaksa duduk di kursi yang tersisa itu, meski di sebelahku adalah perempuan. Sebenarnya, aku sih tidak begitu peduli dan mempermasalahkan hal tersebut, karena bukan aku saja yang duduk dengan lawan jenis. Dan juga sebenarnya aku bisa duduk di deretan 1,2, atau 3 karena masih banyak kursi yang kosong, tapi seperti penjelasanku tadi, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian.
"Permisi, ada orangnya gak?"tanyaku basa-basi, agar terkesesan sopan. Meski sebenarya sudah jelas-jelas bahwa kursi itu kosong.
"Santai aja, kosong kok,"jawabnya lembut sambil tersenyum.
Aku pun duduk, dan meletakkan tasku di kursi. "Kenalin namaku fandy,"ucapku sambil menjulurkan tanganku.
Bukannya balas memperkenalkan diri, tapi dia malah ketawa. "Lu bukan dari bandung ya?" Tanyanya sambil menahan tawa yang benar-benar sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Bukan, aku dari jogja,"jawabku singkat. Aku tahu alasan dia ketawa. Itu pasti karena aku pakai kata-kata"aku" "kamu", sedangkan kebanyakan anak-anak seumuran jaman sekarang lebih banyak menggunakan kata-kata “gw” “lu”. Tapi aku melakukan itu karena aku ingin ngambil aman aja, takutnya kalau aku langsung manggil "lu" ke cewek ini, nanti malah di cap gak sopan.
"Ooo pantes lu sopan banget...Panggil aja gw adel,” balasnya dengan senyum, “Eh iya, gw mau kasih saran aja sih, tapi ini terserah lu mau pakai atau nggak. Saran gw lu pakai "gw" "lu" aja kalau lagi ngobrol sama anak-anak bandung, entah itu pas ngobrol santai atau perkenalan. Soalnya kalau lu pakai "aku" "kamu" bukan ke orang yang bener-bener deket sama lu, yang ada lu malah di ketawain. Meski sebenarnya ada beberapa anak yang memang pakai “Aku” “kamu” saat mereka ngobrol ke orang asing, tapi jumlahnya sedikit banget," jelasnya. "Eh iya, sorry tadi gw ngetawain lu,"ucapnya dengan nada bersalah, meski sebenarnya dia masih menahan tawanya.
"Santai aja. Gw sebenernya udah tahu, kok. Tapi gw takut di cap gak sopan aja. By the way, Thanks infonya, del," balasku sambil tersenyum.
"Yuk, sama-sama,"jawabnya singkat.
–Kriiing....Kriiing...Kriiing...Bunyi bel MOS sudah seperti tiupan sangkala menuju penghakiman bagi kami semua, seluruh kelas 1. Tidak perlu dijelaskan lagi, ini akan benar-benar menjadi hari yang akan penuh dengan“pembu&ian” terhadap kami. Tidak butuh waktu lama bagi ketua osis untuk menyelesaikan sambutannya, seakan-akan dia ingin segera membuka pintu gerbang neraka ini. "Selamat datang di acara pembu&ian" itulah yang dikatakan oleh tatapan para kakak kelas.
Acara pun dimulai dengan pemeriksaan kelengkapan atribut. lalu dilanjutkan dengan kegiatan yang sangat-sangat konyol bagi kami semua, yaitu mencari tanda tangan OSIS. Setelah itu kami dimasukkan ke dalam aula besar dan mendengarkan ceramah motivasi dari para kakak kelas yang malah terkesan menyudutkan kami semua. dan tidak hanya itu saja, berbagai pembu&ian, dan kegiatan-kegiatan konyol lainnya masih berlanjut sampai kami pulang. Dan tiba-tiba saja bel pulang berbunyi. Mungkin karena saking lelahnya kami, sampai-sampai kami tidak sadar jika sudah waktunya untuk pulang. kami semua pulang dengan langkah tergontai-gontai, sembari menunggu pintu neraka ini yang dibuka secara perlahan yang seakan-akan 1 detik seperti beribu-ribu bagi kami. memang benar pintu neraka ini terbuka, tapi tidak ada dari kami yang senang sedikitpun. karena kami masih harus melalui pintu ini selama 5 hari kedepan lagi. Perjuangan kami masih benar-benar jauh dari kata selesai.
Hari ke 2 tidak ada yang berbeda dari hari pertama. Seluruh kegiatan kami hanya diisi dengan kegiatan-kegiatan konyol kakak kelas yang tidak berfaedah sama sekali .
Hari ke 3 juga tidak ada yang berubah dengan hari sebelumnya. kegiatan hari ini masih sama konyol dan tidak berfaedah seperti 2 hari sebelumnya. Namun bedanya hari ini adalah hari terakhir dari kegiatan mencari tanda tangan. Bukannya senang, kami malah bertambah khawatir. Karena kami yakin para kakak kelas akan semakin menjadi-jadi dalam memberikan kami syarat agar bisa mendapatkan tanda tangan. Aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah, dan hembusan hawa panas neraka seketika menyembur keluar menyapu bersih nyaliku hingga tidak bersisa.
Jam menunjukkan pukul 10 dan seperti biasanya, ini adalah jam untuk mencari tanda tangan. Tapi khusus hari ini, tidak hanya tanda tangan osis saja, tapi kita diharuskan untuk mengumpulkan tanda tangan para ketua ekskul juga. Aku mencari tanda tangan bersama beberapa teman yang baru saja kukenal. 1 jam berlalu dan kami terpencar karena harus bergantian melaksanakan syarat-syarat dari para pemilik tanda tangan, agar mendapatkan tandan tangan mereka.
Hanya tersisa 15 menit sebelum pengechekan, sedangkan aku belum memenuhi jumlah batas minimal tanda tangan. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, kepalaku pusing memikirkan cara agar bisa memenuhi batas minium ini. Tadi pagi aku sempat lega mengetahui bahwa ketua ekskul karate smp ku bersekolah di sini, dan kebetulan dia juga menjadi ketua eskul karate di sma ini. Jadi aku yakin bisa minta bantuan padanya jika hal-hal yang tidak kuinginkan terjadi, contohnya seperti sekarang ini. Dan mengapa aku bisa sangat yakin bahwa dia akan menolongku, karena kami sudah seperti saudara yang akrab sekali. Namun pada kenyataannya, ketua ekskul karate yang menandatangani bukuku bukanlah orang yang kuharapkan. Aku sebenarnya ingin bertanya padanya, kenapa orang yang bertanda tangan berbeda dengan informasi di buku MOS. Tapi jika aku betanya seperti itu, aku bisa dicurigai akan berbuat curang. Karena Aku bisa dituduh akan meminta tolong pada kakak kelas.
Sisa 5 tanda tangan dan waktu hanya tersisa 5 menit. Dan yang memperparah keadaan, ke lima kakak kelas tersebut sangat ramai dikerumuni para siswa lainya yang juga ingin mendapatkan tada tangannya. Jika aku memaksa untuk mengantri, kemungkinan aku hanya bisa mendapatkan 1 atau 2 tanda tangan saja. Karena waktuku akan dihabiskan untuk mengantri, belum lagi aku masih harus melaksanakan syarat mereka yang super-super konyol itu. Sumpah aku benar-benar bingung harus bagaimana saat ini.
Waktu semakin menipis, akhirnya kuputuskan untuk ikut mengantri meski aku tahu bakal percuma juga. Sebelum aku masuk ke dalam antrian tiba-tiba ada yang memukul punggungku lumayan keras. "Woi c&&k, lu sudah str&s ya!" ucap seorang laki-laki dengan nada berat....
.....Lanjut di Chapter 3 <Kami menoleh kebelakang dan lebih Terkejut daripada tadi. Kami pikir yang menangkap kami adalah anggota osis biasa, ternyata yang muncul malah ketua osis. Wah parah! Parah! Kali ini Keberuntungan ku benar-benar sudah habis>
Sekian halaman Chapter 2 Tinggal Seatap dengan Guru Perempuanku. kami harap bisa memberi cerita yang sesuai dengan keinginan pembaca.
youtube - videodl.cc - Videoodl.cc
ReplyDeleteyoutube - videoodl.cc. YouTube is the leading media platform for digital and streaming. Learn more, join the discussion, and learn youtube mp4 more.